Pada umumnya, pertanyaan besar bagi para pelaku nikah muda adalah tentang pekerjaan. Bagaimana kelanjutan keluarga kita nanti setelah menikah kelak? Padahal lulus kuliah saja belum. Jika diingat-ingat masa-masa awal menikah memang jadi terharu rasanya. Mengingat semua yang sudah dilakukan... hah... tapi alhamdulillah saya menikmati semua itu dan saya pun bersyukur telah memaluinya.
Sebelum menikah dulu, saya sudah mencoba untuk hidup mandiri. Saat itu says tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi berpenghasilan. Sebelum menikah dulu saya sempat mecoba beberapa pekerjaan mulai dari mengajar privat pembuatan cd interaktif untuk mahasiswa S2, sampai bisnis foto grup panggilan. Memang tidak seberapa, tapi ya lumayan... yang terpenting adalah mental untuk memulainya bukan seberapa banyak rupiah yang kita dapatkan.
Saya bersyukur memiliki seorang istri yang penyabar. Yang siap menghadapi samudera kehidupan bersama. Kami tahu benar konsekuensi menikah sambil kuliah. Jauh dari kata mapan. Tapi tekad kami sudah kuat. Ingin menghalalkan cinta kami. Karena setelah ini semuanya akan menjadi ibadah. Menikah saat kuliah harus dijalani dengan penuh kesabaran, sadar dan siap dengan segala konsekuensinya. Alhamdulillah, istri saya sudah siap dengan segala konsekuensinya itu.
Di awal masa pernikahan kami kembali melanjutkan perjuangan kami, memutar otak untuk mendapat rupiah. Terbersitlah sebuah ide sederhana. Berjualan sandwich. Idenya sederhana, banyak sekali mahasiswa yang kelaparan saat kuliah pagi karena belum sempat sarapan. Akhirnya action! Ide itu kami eksekusi.
Kalau diingat jadi terharu rasanya. Tiap subuh saya pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan. Dingin-dingin, pergi ke pasar di daerah Geger Kalong untuk berburu sayuran segar. Harus subuh, karena kami tidak ingin sayuran di sandwich kami layu. Sepulangnya dari pasar, istri saya sudah menunggu dengan potongan ham yang sudah diiris dan digoreng. Setelah semua siap, segera kami kemas. Selanjutnya ada beberapa teman yang mengambil ke rumah untuk mendagangkan sandwich kami. Alhamdulillah hasilnya lumayan...
Ide berjualan makanan ini terus kami lanjutukan. Masih ingat, saat itu teman-teman saya sedang sibuk mencari rumusan masalah untuk bahan skripsi mereka. Sementara saya, bukannya sibuk merumuskan penelitian saya malah sibuk mencoba beberapa resep burger dan kentang goreng. Kami berencana membuat kedai fastfood di sebuah kantin di salah satu kampus di Bandung.
Saat teman-teman saya selesai dengan proposal penelitiannya, saya selesai menyiapkan gerobak dagangan saya (yang ini jangan ditiru ya... :p hasilnya saya telat lulus kuliah... fiuh...) Tak lama, usaha kami sepi, dagangannya tidak cocok dengan selera pasar. Harga burger kami terlalu mahal. Mau diturunkan tidak mungkin, karena pasti akan merugi. Mau ditutup sayang, karena tempatnya sudah kami sewa selama satu tahun. Akhirnya kami banting stir, jualan minuman. Alhamdulillah kali ini lebih baik. Jus Buah, Coffe Blend, Jus Oreo, Teh Tarik, dan aneka minuman lainnya.
Begitulah aktivitas saya saat itu. Setiap pagi pergi ke pasar untuk berbelanja bahan dagangan. Sampai sekarang saya masih ingat wajah-wajah orang di pasar Cibogo, Sarijadi. Tukang parkirnya, penjual buah, pedagang pelastik. Masih terbayang sampai sekarang. :)
Saya semakin gila bisnis negatifnya saya mulai melupakan akademik saya :( ... Saya pun sempat jadi broker rumah. Kali ini penghasilannya lumayan. Di sini saya mulai belajar cara menghadapi orang. Menawarkan rumah. Hasilnya pun lumayan, saya berhasil menjual sekitar 10-11 rumah. Sudah terbayang saat itu komisi yang segera akan saya dapatkan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Perumahan tersebut bermasalah. Dari 10 rumah tersebut hanya 3 rumah yang saya dapat komisinya.
Merasa tidak beres, saya pindah ke perumahan lain. Jadi marketing di sana. Ternyata sama saja. Dari 2 rumah yang jual, tidak ada komisi yang saya dapatkan. Developernya selalu berkelit dengan berbagai alasan. Untuk penjualan itu saya tidak mendapatkan bayaran kecuali biaya transportasi kurang lebih 2,5 juta. Sedih memang kalau mengingat hal-hal itu terutama saat kita "ditipu". Tapi ya sudahlah, rasanya kalau dikejarpun belum tentu akan saya dapatkan. Saya lepaskan saja.
Setelah jauh melangkah saya teringat kembali akan akademik saya. Akhirnya setelah dikerjakan selesai juga skripsi saya... hehe... jangan ditiru ya...
Saya pun lulus tapi gagal cum laude karena telat lulus. Padahal IPK saya cukup untuk cum laude. Ternyata Allah memiliki rencana lain. Setelah sidang dulu, bertepatan dengan pembukaan CPNS. Akhirnya saya daftar. Dan tepat 2 hari setelah saya wisuda saya mendapat panggilan untuk tes. Firasat saya pun mulai muncul. Ah, mungkin ini pertanda dari Allah... mungkin ini memang untuk saya... Serangkaian tes saya lalui dan akhirnya alhamdulillah saya diterima di salah satu LPNK. Cukup menantang memang, saat dulu terjebak dengan mindset entrepreneur dan "meninggalkan dunia akademik" tapi kini bekerja dengan jalur akademik (banget)... hehehe...
Alhamdulillah saya bersyukur untuk segala yang telah saya alami. Dan semoga bisa menaklukkan tantangan-tantangan selanjutnya... aminnn...
Pesan saya untuk siapa pun yang akan kuliah saat nikah, jangan pernah meninggalkan akademik Anda. Sesibuk apapun, segera selesaikan :)
Berani Nikah Muda
::berbagi cerita tentang menikah di usia muda::
Senin, 24 November 2014
Senin, 05 Mei 2014
Kunjungan Orang Tua
Setelah sebelumnya berkunjung ke rumah calon mertua, maka tibalah saat yang lumayan formal. Yaitu kunjungan kedua orang tua saya ke rumah calon mertua. Tidak butuh waktu lama setelah kunjungan pertama saya ke rumah calon mertua, kurang lebih dua minggu setelahnya datanglahlah saya sekeluarga untuk bersilaturahim. Istilah lainnya khitbah. Khitbah itu artinya mengingat, walaupun sebetulnya kami tidak membawa tambang, rapia, dan sebagainya untuk menguikat wehehehe... Maksudnya adalah untuk mengingat sang calon pengantin wanita. Diikat dengan sebuah janji bahwasanya wanita tersebut kelak akan dinikahkan dengan anak laki-laki dari keluarga yang datang.
Acaranya pun tidak belibet, cukup sederhana namun sangat berkesan. Dimulai dengan sambutan pihak keluarga lelaki. Disampaikanlah maksud kedatangan kami sekeluarga datang kemari yaitu untuk meminang putri sang pemilik rumah. Saya tak bisa berkata apa-apa selain menahan jantung saya agar tak copot di depan keluarga besar kami... haduh...
Inilah salah satu momen yang tidak bisa saya lupakan, tak kala sang calon mertua memanggil putri sulungnya. Lalu muncullah ia dari balik tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang tengahnya. Saya pun hanya tertunduk menahan rasa malu, wajah memerah, lidah kelu, dan ah sudahlah... saya tak bisa berkata apa-apa.
"Gimana teh, mau nggak?" tanya ayahnya kepadanya.
Dengan perasaan malu, sambil tertunduk dia hanya mengangguk sedikit. Namun dibalik wajahnya yang tertunduk saya dapat melihat dengan jelas perasaan senangnya. Dia tidak bisa menyembunyikan itu. Subhanallah...
Lalu acara dilanjutkan dengan ramah-tamah, sambil membicarakan konsep pernikahan yang akan kami laksanakan kelak. Tidak banyak tuntutan, semuanya berjalan dengan lancar... kami pun sepakat untuk melangsugnkan walimatul ursy yang sederhana. Sederhana saja, tidak mewah-mewah. Dan akan dilaksanakan 2 minggu kemudian. 26 Mei 2010.
Acaranya pun tidak belibet, cukup sederhana namun sangat berkesan. Dimulai dengan sambutan pihak keluarga lelaki. Disampaikanlah maksud kedatangan kami sekeluarga datang kemari yaitu untuk meminang putri sang pemilik rumah. Saya tak bisa berkata apa-apa selain menahan jantung saya agar tak copot di depan keluarga besar kami... haduh...
Inilah salah satu momen yang tidak bisa saya lupakan, tak kala sang calon mertua memanggil putri sulungnya. Lalu muncullah ia dari balik tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang tengahnya. Saya pun hanya tertunduk menahan rasa malu, wajah memerah, lidah kelu, dan ah sudahlah... saya tak bisa berkata apa-apa.
"Gimana teh, mau nggak?" tanya ayahnya kepadanya.
Dengan perasaan malu, sambil tertunduk dia hanya mengangguk sedikit. Namun dibalik wajahnya yang tertunduk saya dapat melihat dengan jelas perasaan senangnya. Dia tidak bisa menyembunyikan itu. Subhanallah...
Lalu acara dilanjutkan dengan ramah-tamah, sambil membicarakan konsep pernikahan yang akan kami laksanakan kelak. Tidak banyak tuntutan, semuanya berjalan dengan lancar... kami pun sepakat untuk melangsugnkan walimatul ursy yang sederhana. Sederhana saja, tidak mewah-mewah. Dan akan dilaksanakan 2 minggu kemudian. 26 Mei 2010.
Sabtu, 13 Agustus 2011
cerita: Silaturahim ke Calon Mertua
Tidak sebentar waktu yang digunakan untuk bisa meyakinkan orang tua tentang kebulatan niat saya untuk menikah sambil kuliah. Di mana sih ada orang tua yang ga khawatir sama masa depan anaknya? Semua orang tua pasti khawatir sama masa depan anaknya. "Kamu serius mau kuliah sambil nikah, nanti kuliah kamu gimana, biaya sehari-hari gimana?" Itu adalah respon wajar setiap orang tua saat anaknya memutuskan untuk kuliah sambil menikah. Justru yang aneh adalah ketika kita (khususnya laki-laki) minta kuliah sambil nikah tiba-tiba saja orang tua bilang "ya" tanpa nanya ini itu... kalau udah gitu kita mesti curiga. Jangan-jangan kita anak pungut... hehehe...
Singkat cerita, akhirnya turunlah restu dari kedua orang tua. Maka saat itu saya pun segera menyiapkan langkah berikutnya untuk menggenapkan setengah dien ini. Berkunjung ke rumah calon mertua. eng ing eng... dag dig dug... dag dig dug... dengan bermodal basmalah akhirnya saya berangkat ditemani temen ngaji. Temen sepengajian dari SMA dulu, sahabat saya Ridwan Ginanjar.
Waktu itu sekitar jam 8 pagi. Saya dan Ridwan pergi dari Bandung menuju kota hujan. Bogor. Selama perjalanan hati sudah deg-degan takut jantung ini copot di depan calon mertua. Berbagai kemungkinan sudah dibayangkan. "Hmmm pasti nanti ditanya ini... ditanya itu... euh... aduh...."
Belum lagi nyasar di jalan... muter-muter di depok... nah bingung kan... kenapa ke bogor malah nyungsep di depok... jadi rumah istri saya itu bogornya di daerah parung, nah parung itu batasan sama depok... jadi ya pasti lewat depok dulu...
Setelah muter ke sana ke sini akhirnya sampailah saya ke daerah rumahnya. Dengan baiknya, ternyata calon mertua saya sudah nunggu dari tadi di depan gang rumahnya... Saking baiknya saya dan ridwan ternyata di jemput pake motor... aduh jadi ga enak... malu... ge er... si Bapak nyampe ngutus ojek segala... pokonya begitu sampai di sana saya diperlakukan dengan baik. Ridwan pun hanya kebingungan saja dengan kondisi saat itu.
Akhirnya saat itu pun tiba. Saatnya bagi saya untuk mengutarakan niat kedatangan saya. Dan eh... tanpa harus basa-basi rupanya si Bapak sudah faham maksud kedatangan saya dan langsung menyambut baik.... kaget kan? kok simpel ya? kok "gampang" ya? Iya, tentu saja... coba ingat kata Allah dalam Al Qur'an. "Allah tidak akan membebani manusia di luar batas kesanggupannya..." Jadi intinya adalah bukan sulit atau mudahnya karena sulit dan mudah itu relatif. Yakinlah bahwasanya segala sesuatu itu pasti bisa kita lakukan. Karena bila ada tantangan di depan mata pastilah tantangan itu adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Karena pada hakikatnya setiap cobaan yang datang pasti sebanding dengan kapasitas dan kemampuan kita. Jadi kalau sudah faham dengan konsep ini maka permasalahannya bukan lagi bisa atau tidak, tapi berani atau tidak.
Masih ada satu hal lagi yang mengganjal perasaan saya. Penghasilan. Lelaki mana sih yang mau menikah tanpa menyiapkan yang satu ini. Jujur deh... kalau ente-ente para lelaki disuruh ngelamar pasti yang paling ente takutin ya faktor yang satu ini... pekerjaan alias maisyah. Saat itu saya sudah nyiapin bahan presentasi. Saat itu pekerjaan saya hanya proyekan2 yang sifatnya ga tetap alias nyambi... jadi kalau si bapak nanya seputar itu, ntar bakal dijawab begitu aja deh... bismillah... tapi ternyata apa yang terjadi sodara2? Dari awal datang sampai dengan panitan camerku (calon mertua) sedikit pun tidak membahas masalah itu. Dan akhirnya saya jadi mikir.... "kok bisa ya selancar ini... alhamdulillah..." Ternyata itulah hikmahnya... terkadang apa yang kita bayangkan jauh lebih menakutkan dari apa yang akan kita alami... itu hikmahnya... Lagian dengan sikap si Bapak yang begitu saya jadi teringat pada sebuah hadits
“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian), maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar. “ (HR.Tirmidzi: 1084)
Kok bisa terjadi fitnah yang besar? ya jelas lah jelas fitnah besar saat anak muda dipersulit untuk nikah dan akhirnya malah terjerumus dalam pacaran, pergaulan bebas, dan berbagai aktivitas haram lainnya... jadi mening nikah aja... halal lebih enak... hehehe...
Ya, begitulah akhirnya silaturahim saya sama calon mertua. Calon mertua aja, karena pada saat yang bersamaan anaknya mah lagi naek gunung di bandung.
Mudah-mudahan Allah masih beri kita kesempatan untuk bertemu dan bagi2 cerita yang lebih seru lagi ya... amiin....
Wallahu alam...
Singkat cerita, akhirnya turunlah restu dari kedua orang tua. Maka saat itu saya pun segera menyiapkan langkah berikutnya untuk menggenapkan setengah dien ini. Berkunjung ke rumah calon mertua. eng ing eng... dag dig dug... dag dig dug... dengan bermodal basmalah akhirnya saya berangkat ditemani temen ngaji. Temen sepengajian dari SMA dulu, sahabat saya Ridwan Ginanjar.
Waktu itu sekitar jam 8 pagi. Saya dan Ridwan pergi dari Bandung menuju kota hujan. Bogor. Selama perjalanan hati sudah deg-degan takut jantung ini copot di depan calon mertua. Berbagai kemungkinan sudah dibayangkan. "Hmmm pasti nanti ditanya ini... ditanya itu... euh... aduh...."
Belum lagi nyasar di jalan... muter-muter di depok... nah bingung kan... kenapa ke bogor malah nyungsep di depok... jadi rumah istri saya itu bogornya di daerah parung, nah parung itu batasan sama depok... jadi ya pasti lewat depok dulu...
Setelah muter ke sana ke sini akhirnya sampailah saya ke daerah rumahnya. Dengan baiknya, ternyata calon mertua saya sudah nunggu dari tadi di depan gang rumahnya... Saking baiknya saya dan ridwan ternyata di jemput pake motor... aduh jadi ga enak... malu... ge er... si Bapak nyampe ngutus ojek segala... pokonya begitu sampai di sana saya diperlakukan dengan baik. Ridwan pun hanya kebingungan saja dengan kondisi saat itu.
Akhirnya saat itu pun tiba. Saatnya bagi saya untuk mengutarakan niat kedatangan saya. Dan eh... tanpa harus basa-basi rupanya si Bapak sudah faham maksud kedatangan saya dan langsung menyambut baik.... kaget kan? kok simpel ya? kok "gampang" ya? Iya, tentu saja... coba ingat kata Allah dalam Al Qur'an. "Allah tidak akan membebani manusia di luar batas kesanggupannya..." Jadi intinya adalah bukan sulit atau mudahnya karena sulit dan mudah itu relatif. Yakinlah bahwasanya segala sesuatu itu pasti bisa kita lakukan. Karena bila ada tantangan di depan mata pastilah tantangan itu adalah sesuatu yang bisa kita lakukan. Karena pada hakikatnya setiap cobaan yang datang pasti sebanding dengan kapasitas dan kemampuan kita. Jadi kalau sudah faham dengan konsep ini maka permasalahannya bukan lagi bisa atau tidak, tapi berani atau tidak.
Masih ada satu hal lagi yang mengganjal perasaan saya. Penghasilan. Lelaki mana sih yang mau menikah tanpa menyiapkan yang satu ini. Jujur deh... kalau ente-ente para lelaki disuruh ngelamar pasti yang paling ente takutin ya faktor yang satu ini... pekerjaan alias maisyah. Saat itu saya sudah nyiapin bahan presentasi. Saat itu pekerjaan saya hanya proyekan2 yang sifatnya ga tetap alias nyambi... jadi kalau si bapak nanya seputar itu, ntar bakal dijawab begitu aja deh... bismillah... tapi ternyata apa yang terjadi sodara2? Dari awal datang sampai dengan panitan camerku (calon mertua) sedikit pun tidak membahas masalah itu. Dan akhirnya saya jadi mikir.... "kok bisa ya selancar ini... alhamdulillah..." Ternyata itulah hikmahnya... terkadang apa yang kita bayangkan jauh lebih menakutkan dari apa yang akan kita alami... itu hikmahnya... Lagian dengan sikap si Bapak yang begitu saya jadi teringat pada sebuah hadits
“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian), maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar. “ (HR.Tirmidzi: 1084)
Kok bisa terjadi fitnah yang besar? ya jelas lah jelas fitnah besar saat anak muda dipersulit untuk nikah dan akhirnya malah terjerumus dalam pacaran, pergaulan bebas, dan berbagai aktivitas haram lainnya... jadi mening nikah aja... halal lebih enak... hehehe...
Ya, begitulah akhirnya silaturahim saya sama calon mertua. Calon mertua aja, karena pada saat yang bersamaan anaknya mah lagi naek gunung di bandung.
Mudah-mudahan Allah masih beri kita kesempatan untuk bertemu dan bagi2 cerita yang lebih seru lagi ya... amiin....
Wallahu alam...
Jumat, 12 Agustus 2011
Kenalan dulu ya...
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah... Allahumma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad...
Banyak buku-buu yang tersebar saat ini dan diantaranya adalah buku-buku biografi. Ada yang menceritakan SBY, Obama, Ahmadinejad, Soeharto, Soekarno, dan masih banyak lagi. Isinya pun luar biasa. Banyak cerita-cerita yang bisa menginspirasi dan memotivasi bagi kita. Bahkan tidak jarang, setelah membaca buku-buku itu tiba-tiba kita kesetrum energi positif dari orang yang diceritakan. Beeeezzzzzz tiba-tiba kita kesetrum dan wah... jegggerrr.... langsung bisa beraktivitas dengan sueger dan jreng.... (kaya iklan multivitamin ya...)
Hahhh... kadang saya suka ngiri sama orang-orang besar itu. Saat kehidupan pribadinya justru bisa jadi motivasi dan inpirasi banyak orang. Padahal bisa jadi yang mereka lakukan hanya kehidupan normal ala mereka. Hidup normal menjdai diri sendiri apa adanya. Tapi hebatnya, kehidupan yang seolah-olah normal itu malah bisa menginspirasi orang banyak. Ngiri? jelas lah... Tapi masalahnya, siapa yang mau nulis biografi saya? Haha... mungkin terlalu pede kalau tiba-tiba datang ke penulis terus bilang, "Oom... mau nulis tentang diri saya ga?" yahhh... paling malah disuruh pulang... tapi gimana ya... emang udah jadi cita-cita mungkin ya... sudah tertalu dalam. Saya mau menginspirasi banyak orang, titik. Jadi ya akhirnya... berbekal seadanya saja saya coba buat tulisan-tulisan ini... dan mudah-mudahan banyak manfaatnya... amin...
Oya, perkenalkan nama saya Ijang Permana Sidik. Orang-orang biasa panggil saya Ijang atau Kang Ijang. Saya Anak ke tiga dari tiga bersaudara. Semuanya laki-laki. Jadi otomatis yang tercantik adalah ibu saya... love u mom... heheh... Saat ini saya mahasiswa tingkat akhir di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan teknologi pendidikan. Saya lahir tanggal 14 maret 1989. Jadi saat ini usia saya baru 22 tahun...
Saya menikah satu tahun lalu, tepatnya 26 Mei 2010. Saya menikah dengan adik kelas saya. Wanita tercantik yang pernah saya jumpai. Seorang yang cerdas berdiskusi. Yang setiap argumen-argumennya buat saya terkagum-kagum... udah ah, nanti orangnya ge er... Namanya Tetty. Tetty Hermawati. Ketika menikah dulu umur saya masih 21 tahun dan istri saya saat itu masih sangat muda, 19 tahun walaupun sebetulnya sudah mau 20 tahun, karena ulang tahun istri saya 4 hari setelah hari pernikahan kami. Jadi bisa dibilang, saya ini kado terindah buat istri saya... hehehe...
Di tengah-tengah aktivitas kuliah kami, Allah menganugerahlkan pada kami seorang anak lelaki. Saat ini usianya baru 2 bulan. Dia lahir tanggal 12 Juni Kemarin. Namanya Muhammad Kifah Abdullah Sidik. Si anak gendut yang lucu. waktu lahir beratnya 3,4 Kg (gede ya) dan sekarang di usianya yang baru 2 bulan beratnya sudah mencapai 6 Kg padahal berat segitu itu berat ideal buiat bayi 4 bulan... waduh... ck ck ck... hebat ni kifah...
Yah, begitulah sekilas tentang saya... Insya Allah kalau ada umur kita berjumpa lagi... Wassalamu alaikum Wr. Wb...
Subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah... Allahumma shali ala Muhammad wa ala ali Muhammad...
Banyak buku-buu yang tersebar saat ini dan diantaranya adalah buku-buku biografi. Ada yang menceritakan SBY, Obama, Ahmadinejad, Soeharto, Soekarno, dan masih banyak lagi. Isinya pun luar biasa. Banyak cerita-cerita yang bisa menginspirasi dan memotivasi bagi kita. Bahkan tidak jarang, setelah membaca buku-buku itu tiba-tiba kita kesetrum energi positif dari orang yang diceritakan. Beeeezzzzzz tiba-tiba kita kesetrum dan wah... jegggerrr.... langsung bisa beraktivitas dengan sueger dan jreng.... (kaya iklan multivitamin ya...)
Hahhh... kadang saya suka ngiri sama orang-orang besar itu. Saat kehidupan pribadinya justru bisa jadi motivasi dan inpirasi banyak orang. Padahal bisa jadi yang mereka lakukan hanya kehidupan normal ala mereka. Hidup normal menjdai diri sendiri apa adanya. Tapi hebatnya, kehidupan yang seolah-olah normal itu malah bisa menginspirasi orang banyak. Ngiri? jelas lah... Tapi masalahnya, siapa yang mau nulis biografi saya? Haha... mungkin terlalu pede kalau tiba-tiba datang ke penulis terus bilang, "Oom... mau nulis tentang diri saya ga?" yahhh... paling malah disuruh pulang... tapi gimana ya... emang udah jadi cita-cita mungkin ya... sudah tertalu dalam. Saya mau menginspirasi banyak orang, titik. Jadi ya akhirnya... berbekal seadanya saja saya coba buat tulisan-tulisan ini... dan mudah-mudahan banyak manfaatnya... amin...
Oya, perkenalkan nama saya Ijang Permana Sidik. Orang-orang biasa panggil saya Ijang atau Kang Ijang. Saya Anak ke tiga dari tiga bersaudara. Semuanya laki-laki. Jadi otomatis yang tercantik adalah ibu saya... love u mom... heheh... Saat ini saya mahasiswa tingkat akhir di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusan teknologi pendidikan. Saya lahir tanggal 14 maret 1989. Jadi saat ini usia saya baru 22 tahun...
Saya menikah satu tahun lalu, tepatnya 26 Mei 2010. Saya menikah dengan adik kelas saya. Wanita tercantik yang pernah saya jumpai. Seorang yang cerdas berdiskusi. Yang setiap argumen-argumennya buat saya terkagum-kagum... udah ah, nanti orangnya ge er... Namanya Tetty. Tetty Hermawati. Ketika menikah dulu umur saya masih 21 tahun dan istri saya saat itu masih sangat muda, 19 tahun walaupun sebetulnya sudah mau 20 tahun, karena ulang tahun istri saya 4 hari setelah hari pernikahan kami. Jadi bisa dibilang, saya ini kado terindah buat istri saya... hehehe...
Di tengah-tengah aktivitas kuliah kami, Allah menganugerahlkan pada kami seorang anak lelaki. Saat ini usianya baru 2 bulan. Dia lahir tanggal 12 Juni Kemarin. Namanya Muhammad Kifah Abdullah Sidik. Si anak gendut yang lucu. waktu lahir beratnya 3,4 Kg (gede ya) dan sekarang di usianya yang baru 2 bulan beratnya sudah mencapai 6 Kg padahal berat segitu itu berat ideal buiat bayi 4 bulan... waduh... ck ck ck... hebat ni kifah...
Yah, begitulah sekilas tentang saya... Insya Allah kalau ada umur kita berjumpa lagi... Wassalamu alaikum Wr. Wb...
Langganan:
Komentar (Atom)
