Senin, 24 November 2014

Pekerjaan

Pada umumnya, pertanyaan besar bagi para pelaku nikah muda adalah tentang pekerjaan. Bagaimana kelanjutan keluarga kita nanti setelah menikah kelak? Padahal lulus kuliah saja belum. Jika diingat-ingat masa-masa awal menikah memang jadi terharu rasanya. Mengingat semua yang sudah dilakukan... hah... tapi alhamdulillah saya menikmati semua itu dan saya pun bersyukur telah memaluinya.

Sebelum menikah dulu, saya sudah mencoba untuk hidup mandiri. Saat itu says tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi berpenghasilan. Sebelum menikah dulu saya sempat mecoba beberapa pekerjaan mulai dari mengajar privat pembuatan cd interaktif untuk mahasiswa S2, sampai bisnis foto grup panggilan. Memang tidak seberapa, tapi ya lumayan... yang terpenting adalah mental untuk memulainya bukan seberapa banyak rupiah yang kita dapatkan.

Saya bersyukur memiliki seorang istri yang penyabar. Yang siap menghadapi samudera kehidupan bersama. Kami tahu benar konsekuensi menikah sambil kuliah. Jauh dari kata mapan. Tapi tekad kami sudah kuat. Ingin menghalalkan cinta kami. Karena setelah ini semuanya akan menjadi ibadah. Menikah saat kuliah harus dijalani dengan penuh kesabaran, sadar dan siap dengan segala konsekuensinya. Alhamdulillah, istri saya sudah siap dengan segala konsekuensinya itu.

Di awal masa pernikahan kami kembali melanjutkan perjuangan kami, memutar otak untuk mendapat rupiah. Terbersitlah sebuah ide sederhana. Berjualan sandwich. Idenya sederhana, banyak sekali mahasiswa yang kelaparan saat kuliah pagi karena belum sempat sarapan. Akhirnya action! Ide itu kami eksekusi.

Kalau diingat jadi terharu rasanya. Tiap subuh saya pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan. Dingin-dingin, pergi ke pasar di daerah Geger Kalong untuk berburu sayuran segar. Harus subuh, karena kami tidak ingin sayuran di sandwich kami layu. Sepulangnya dari pasar, istri saya sudah menunggu dengan potongan ham yang sudah diiris dan digoreng. Setelah semua siap, segera kami kemas. Selanjutnya ada beberapa teman yang mengambil ke rumah untuk mendagangkan sandwich kami. Alhamdulillah hasilnya lumayan...

Ide berjualan makanan ini terus kami lanjutukan. Masih ingat, saat itu teman-teman saya sedang sibuk mencari rumusan masalah untuk bahan skripsi mereka. Sementara saya, bukannya sibuk merumuskan penelitian saya malah sibuk mencoba beberapa resep burger dan kentang goreng. Kami berencana membuat kedai fastfood di sebuah kantin di salah satu kampus di Bandung.

Saat teman-teman saya selesai dengan proposal penelitiannya, saya selesai menyiapkan gerobak dagangan saya (yang ini jangan ditiru ya... :p hasilnya saya telat lulus kuliah... fiuh...) Tak lama, usaha kami sepi, dagangannya tidak cocok dengan selera pasar. Harga burger kami terlalu mahal. Mau diturunkan tidak mungkin, karena pasti akan merugi. Mau ditutup sayang, karena tempatnya sudah kami sewa selama satu tahun. Akhirnya kami banting stir, jualan minuman. Alhamdulillah kali ini lebih baik. Jus Buah, Coffe Blend, Jus Oreo, Teh Tarik, dan aneka minuman lainnya.

Begitulah aktivitas saya saat itu. Setiap pagi pergi ke pasar untuk berbelanja bahan dagangan. Sampai sekarang saya masih ingat wajah-wajah orang di pasar Cibogo, Sarijadi. Tukang parkirnya, penjual buah, pedagang pelastik. Masih terbayang sampai sekarang. :)

Saya semakin gila bisnis negatifnya saya mulai melupakan akademik saya :( ... Saya pun sempat jadi broker rumah. Kali ini penghasilannya lumayan. Di sini saya mulai belajar cara menghadapi orang. Menawarkan rumah. Hasilnya pun lumayan, saya berhasil menjual sekitar 10-11 rumah. Sudah terbayang saat itu komisi yang segera akan saya dapatkan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Perumahan tersebut bermasalah. Dari 10 rumah tersebut hanya 3 rumah yang saya dapat komisinya.

Merasa tidak beres, saya pindah ke perumahan lain. Jadi marketing di sana. Ternyata sama saja. Dari 2 rumah yang jual, tidak ada komisi yang saya dapatkan. Developernya selalu berkelit dengan berbagai alasan. Untuk penjualan itu saya tidak mendapatkan bayaran kecuali biaya transportasi kurang lebih 2,5 juta. Sedih memang kalau mengingat hal-hal itu terutama saat kita "ditipu". Tapi ya sudahlah, rasanya kalau dikejarpun belum tentu akan saya dapatkan. Saya lepaskan saja.

Setelah jauh melangkah saya teringat kembali akan akademik saya. Akhirnya setelah dikerjakan selesai juga skripsi saya... hehe... jangan ditiru ya...

Saya pun lulus tapi gagal cum laude karena telat lulus. Padahal IPK saya cukup untuk cum laude. Ternyata Allah memiliki rencana lain. Setelah sidang dulu, bertepatan dengan pembukaan CPNS. Akhirnya saya daftar. Dan tepat 2 hari setelah saya wisuda saya mendapat panggilan untuk tes. Firasat saya pun mulai muncul. Ah, mungkin ini pertanda dari Allah... mungkin ini memang untuk saya... Serangkaian tes saya lalui dan akhirnya alhamdulillah saya diterima di salah satu LPNK. Cukup menantang memang, saat dulu terjebak dengan  mindset entrepreneur dan "meninggalkan dunia akademik" tapi kini bekerja dengan jalur akademik (banget)... hehehe...

Alhamdulillah saya bersyukur untuk segala yang telah saya alami. Dan semoga bisa menaklukkan tantangan-tantangan selanjutnya... aminnn...

Pesan saya untuk siapa pun yang akan kuliah saat nikah, jangan pernah meninggalkan akademik Anda. Sesibuk apapun, segera selesaikan :)